SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang memutuskan untuk memperluas jangkauan penerima bisyaroh bagi para penggerak keagamaan di wilayahnya. Langkah ini menjadikan hampir 10.000 orang dari berbagai profesi keagamaan akan menerima insentif tersebut.
Siapa Saja yang Masuk dalam Perluasan Penerima Bisyaroh?
Kebijakan ini tidak lagi terbatas pada modin atau petugas urusan agama di tingkat kelurahan. Pemkot Semarang kini memasukkan guru mengaji, guru Madrasah Diniyah, guru Raudhatul Athfal, hingga petugas kemakmuran masjid sebagai penerima bisyaroh.
Total penerima yang tercatat hampir menembus angka 10.000 orang. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang cakupannya lebih sempit.
Mengapa Pemkot Semarang Memperluas Cakupan Ini?
Perluasan ini didasari oleh peran strategis para penggerak keagamaan dalam membina kehidupan spiritual warga Kota Semarang. Mereka dianggap sebagai garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Pemkot Semarang berharap insentif ini dapat menjadi bentuk apresiasi dan motivasi bagi mereka untuk terus berkontribusi. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat moderasi beragama di ibu kota Jawa Tengah.
Berapa Besaran Bisyaroh yang Diterima?
Meski besaran nominal per individu tidak disebutkan secara rinci, total anggaran yang dialokasikan untuk program ini mencapai miliaran rupiah. Setiap penerima mendapatkan nominal yang disesuaikan dengan peran dan frekuensi kegiatan keagamaan yang mereka jalani.
Pembayaran bisyaroh dilakukan secara berkala melalui mekanisme yang telah ditetapkan oleh Dinas terkait di lingkungan Pemkot Semarang. Proses verifikasi data penerima terus dilakukan untuk memastikan tepat sasaran.
Dampak bagi Penggerak Keagamaan di Semarang
Para penerima bisyaroh menyambut positif perluasan cakupan ini. Mereka menilai insentif tersebut membantu meringankan beban ekonomi, terutama bagi guru ngaji dan modin yang selama ini mengabdikan diri secara sukarela.
Dengan cakupan yang hampir mencapai 10.000 orang, program ini menjadi salah satu yang terbesar di Jawa Tengah. Pemkot Semarang berencana mengevaluasi program ini secara berkala untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutannya.