JAWA TENGAH — Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Balinusra 2026 di Subak Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Senin (27/7/2026). Program ini mengusung pendekatan struktural: memperkuat produktivitas petani dan efisiensi rantai pasok, bukan sekadar intervensi harga jangka pendek.
Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Regional BI Rudy B. Hutabarat menyatakan, karakteristik kepulauan Balinusra membuat distribusi pangan rentan terhadap cuaca ekstrem dan kenaikan ongkos logistik. "Pengendalian inflasi pangan tidak lagi cukup mengandalkan operasi pasar atau intervensi jangka pendek," ujarnya.
Fokus pada Mekanisasi dan Digitalisasi Pertanian
Implementasi GPIPS 2026 difokuskan pada empat pilar: modernisasi pertanian lewat teknologi, penguatan produktivitas pangan, efisiensi rantai pasok, dan kerja sama antardaerah (KAD). BI mendorong replikasi sistem Subak sebagai model irigasi dan tata kelola produksi yang menyelaraskan kebutuhan air serta pola tanam antara daerah surplus dan defisit.
Rudy menambahkan, sejumlah inovasi daerah telah menunjukkan hasil positif. Beberapa di antaranya adalah pertanian modern terintegrasi, gerakan tanam cabai, pasar murah berbasis kerja sama dengan Perumda, serta inovasi stabilisasi harga. "Semua itu layak diperluas ke berbagai daerah," katanya.
Inflasi Nasional Terkendali, Tapi Risiko Pangan Masih Tinggi
Secara nasional, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tercatat 3,34 persen (year on year), masih dalam kisaran sasaran pemerintah dan BI. Meski demikian, BI menilai penguatan ketahanan pangan harus terus dilakukan di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan, ketahanan pangan daerah menjadi fondasi inflasi nasional. Ia meminta pemerintah daerah memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terutama dalam mengantisipasi dampak El Nino dan cuaca ekstrem terhadap produksi pangan.
Panca Kerthi Pangan: Lima Fokus Strategis
Rangkaian GPIPS Balinusra 2026 menghasilkan komitmen bersama bertajuk Panca Kerthi Pangan. Lima fokus utamanya meliputi:
- Memperkuat kapasitas petani dan nelayan
- Mempercepat modernisasi pertanian melalui mekanisasi dan digitalisasi
- Meningkatkan mitigasi dampak perubahan iklim
- Mengoptimalkan stabilisasi harga melalui Gerakan Pangan Murah dan operasi pasar
- Memperkuat distribusi pangan lewat kerja sama antardaerah
Kegiatan juga dirangkaikan dengan penyaluran bantuan sarana pertanian modern, penandatanganan kerja sama distribusi komoditas pangan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
Sekretaris Daerah Provinsi Bali menekankan pentingnya perlindungan lahan pertanian berkelanjutan dan insentif untuk regenerasi petani muda. Langkah ini dinilai krusial agar sektor pertanian tetap produktif menopang ketahanan pangan jangka panjang.