JAWA TENGAH — Bendungan Sidan yang terletak di Bali memiliki tinggi 68 meter dengan kapasitas tampung 5,76 juta meter kubik. Infrastruktur ini dirancang untuk menyuplai air baku sebesar 1,75 meter kubik per detik, yang akan mengairi lahan irigasi seluas 9.598 hektare melalui jaringan sepanjang 123,19 kilometer.
Selain untuk pertanian, bendungan ini juga memiliki potensi pembangkit listrik berkapasitas 8,08 megawatt (MW). Tidak hanya itu, keberadaan Bendungan Sidan juga mampu mereduksi genangan banjir di kawasan seluas 108 hektare.
Manfaat untuk Petani dan Pengendalian Banjir
Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya, Dian Sovana, menegaskan bahwa peresmian dua bendungan ini merupakan wujud nyata kontribusi perseroan dalam mendukung Asta Cita Pemerintah. "Infrastruktur bendungan tidak hanya menyediakan air bagi sektor pertanian, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi masyarakat melalui penyediaan air baku, pengendalian banjir, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (11/7/2026).
Presiden Prabowo, saat meresmikan lima bendungan secara serentak dari Bendungan Meninting di Lombok Barat, menekankan bahwa pembangunan ini merupakan investasi jangka panjang. Kepala Negara meminta agar manfaat bendungan benar-benar dirasakan oleh petani sebagai produsen pangan nasional.
Fondasi Kedaulatan Bangsa
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menambahkan bahwa pembangunan bendungan menjadi fondasi penting bagi kedaulatan bangsa. Menurutnya, penguatan infrastruktur sumber daya air adalah kunci untuk menjamin ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.
Selain Bendungan Sidan dan Keureuto yang dibangun Brantas Abipraya, pemerintah juga meresmikan Bendungan Rukoh di Aceh dan Bendungan Jlantah di Jawa Tengah secara hibrida. Dengan rampungnya proyek ini, pasokan air untuk pertanian dan kebutuhan domestik di dua provinsi tersebut dipastikan semakin andal.