JAWA TENGAH — Kinerja keuangan BUMN pada tahun lalu menunjukkan perbaikan yang nyata. PT Pertamina (Persero) misalnya, membukukan laba bersih Rp 32 triliun, naik 18 persen dibanding tahun sebelumnya. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI juga mencatat pertumbuhan laba dua digit, didorong oleh ekspansi kredit ke segmen UMKM yang mencapai Rp 120 triliun melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Di sektor ketenagalistrikan, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berhasil menyambungkan listrik ke 200 desa terpencil di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan pendapatan dari segmen data dan digital yang melampaui target awal tahun.
Transformasi Bukan Soal Besar Aset
CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan BUMN tidak lagi semata-mata dari besarnya aset atau laba. Menurutnya, kontribusi terhadap perekonomian nasional dan masyarakat menjadi indikator utama.
"Kekuatan BUMN tidak hanya diukur dari besarnya aset atau laba, tetapi juga dari kontribusinya terhadap perekonomian dan masyarakat," ujar Rosan dalam keterangan resmi, Selasa (18/2).
Pernyataan ini merespons data kinerja BUMN yang dirilis pekan lalu. Selain laba bersih yang naik, total aset BUMN juga bertambah menjadi Rp 9.800 triliun, meningkat 12 persen secara tahunan.
Dampak Langsung ke Masyarakat dan Negara
Kenaikan laba BUMN berdampak langsung pada dua hal: dividen untuk negara dan layanan ke masyarakat. Dividen yang disetor ke kas negara tahun ini diperkirakan lebih besar dari tahun lalu, memberikan ruang fiskal lebih luas bagi pemerintah.
Di sisi lain, ekspansi layanan seperti sambungan listrik ke desa terpencil oleh PLN dan penyaluran KUR oleh BRI memperkuat akses masyarakat terhadap energi dan pembiayaan usaha. "Ini bukti bahwa BUMN hadir tidak hanya untuk mencari untung, tetapi juga untuk menggerakkan roda ekonomi daerah," tambah Rosan.
Ke depan, Danantara akan mendorong efisiensi operasional di seluruh BUMN dan mempercepat program hilirisasi di sektor sumber daya alam. Langkah ini diyakini akan semakin memperkuat fundamental perusahaan pelat merah di tengah ketidakpastian ekonomi global.