JAWA TENGAH — Pengguna ponsel di Indonesia mungkin akrab dengan produk Xiaomi, mulai dari seri Redmi hingga flagship Mi. Tapi di Amerika Serikat, penduduk setempat harus puas melihat daftar merek global tanpa bisa menyentuh langsung perangkat Xiaomi di gerai resmi. Kondisi ini memicu asumsi bahwa Xiaomi masuk dalam daftar hitam pemerintah AS, seperti yang pernah menimpa Huawei.
Faktanya, Xiaomi memang sempat masuk daftar hitam pada Januari 2021, saat pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan China yang dituduh memiliki hubungan dengan militer. Melansir Reuters (14/1/2021), investor AS dilarang bertransaksi saham Xiaomi dan wajib melepas kepemilikan yang ada. Namun larangan itu hanya bertahan sekitar empat bulan. Xiaomi menggugat keputusan tersebut dan pada 25 Mei 2021, pemerintah AS resmi mencabut status blacklist.
Mengapa Xiaomi Tidak Ekspansi ke Pasar AS?
Setelah bebas dari sanksi, Xiaomi tetap tidak menunjukkan minat serius untuk masuk ke pasar AS. Strategi bisnis menjadi alasan utama. Xiaomi selama ini sukses di negara berkembang dengan model keuntungan tipis—hanya sekitar 5 persen margin per perangkat—sehingga harga jual bisa sangat kompetitif. Model ini sulit diterapkan di AS yang didominasi kerja sama dengan operator seluler (carrier).
Masuk ke AS berarti harus bernegosiasi dengan AT&T, Verizon, atau T-Mobile, plus menanggung biaya pemasaran dan distribusi yang tinggi. Risiko investasi besar ini belum sebanding dengan ancaman regulasi yang bisa muncul kapan saja. Setelah pengalaman blacklist 2021, Xiaomi sadar bahwa posisinya di AS bisa sewaktu-waktu diguncang isu politik.
HP Xiaomi Bisa Dibeli di AS, Tapi Harus Impor
Bagi warga AS yang penasaran dengan Xiaomi 17 Ultra atau seri flagship lainnya, satu-satunya cara adalah mengimpor sendiri dari China atau pasar Asia Tenggara. Tidak ada jalur distribusi resmi untuk ponsel Xiaomi di Amerika Serikat. Namun, produk lain seperti air purifier, charger, aksesori meja, hingga obeng tanpa kabel justru bisa dibeli secara legal di platform e-commerce AS.
Situasi ini kontras dengan pasar domestik Xiaomi di China. Di sana, perusahaan tidak hanya fokus pada ponsel, tetapi juga merambah industri mobil listrik yang sedang berkembang pesat. Beberapa kendaraan berteknologi tinggi sudah dirilis, menandai diversifikasi bisnis yang agresif di kandang sendiri.
Dampak bagi Konsumen Global
Ketiadaan Xiaomi di AS membuat konsumen di negara itu kehilangan akses ke ponsel dengan spesifikasi flagship tapi harga menengah. Sebagai perbandingan, seri Xiaomi 14 yang beredar di Eropa dan Asia menawarkan kamera Leica dan chipset Snapdragon 8 Gen 3 dengan harga di bawah kompetitor Samsung atau Apple. Di Indonesia, pengguna justru diuntungkan karena Xiaomi hadir secara resmi dengan garansi dan layanan purna jual.
Keputusan Xiaomi untuk tidak berekspansi ke AS juga berdampak pada persaingan global. Tanpa tekanan dari Xiaomi, dominasi Apple dan Samsung di AS semakin sulit tergoyahkan. Sementara itu, konsumen di Asia dan Eropa terus menikmati inovasi dari vendor yang kini juga bermain di sektor kendaraan listrik.