Pencarian

Festival Nyawiji Tosan Aji 2026 di Solo Dorong Regenerasi Empu Muda, Astrid Widayani Sebut Keris Bukan Sekadar Pusaka

Sabtu, 11 Juli 2026 • 21:53:02 WIB
Festival Nyawiji Tosan Aji 2026 di Solo Dorong Regenerasi Empu Muda, Astrid Widayani Sebut Keris Bukan Sekadar Pusaka
Astrid Widayani membuka Festival Nyawiji Tosan Aji 2026 di Solo dengan penekanan nilai filosofi keris.

SOLO — Astrid Widayani menegaskan bahwa tosan aji bukan sekadar koleksi atau pajangan di museum. Dalam sambutannya saat membuka festival yang berlangsung 10–12 Juli 2026, ia menyebut keris mengandung nilai kepemimpinan, keberanian, dan harmoni antara manusia dengan alam.

“Tosan aji merupakan sebuah warisan sekaligus amanah yang harus kita jaga, kita rawat, dan kita kembangkan bersama. Khususnya keris, yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan, keberanian, kebijaksanaan, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Astrid.

Mengapa Regenerasi Empu Menjadi Isu Krusial?

Festival bertema “Manunggaling Satyagraha Tosan Aji” ini sengaja menghadirkan demonstrasi tempa keris langsung oleh para empu. Tujuannya menarik minat anak muda yang selama ini menganggap proses pembuatan keris hanya milik generasi tua.

Menurut Astrid, dari keris generasi muda bisa belajar tentang sejarah kerajaan Nusantara, keteladanan, hingga semangat menjaga keseimbangan kehidupan. “Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup di tengah masyarakat, terutama untuk generasi penerus,” ungkapnya.

Pameran, Sarasehan, hingga Bazar UMKM: Satu Paket Ekonomi Kreatif

Selain pameran keris Nusantara dan bursa tosan aji, festival ini juga menggelar sarasehan budaya, edukasi perawatan pusaka, pagelaran seni tradisional, dan bazar UMKM berbasis budaya. Pemerintah Kota Surakarta berharap kegiatan ini tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menggerakkan sektor ekonomi kreatif lokal.

Dalam rangkaian pembukaan, dilakukan penyerahan keris pusaka kepada Pemkot Surakarta sebagai simbol komitmen bersama menjaga warisan Nusantara. Astrid menekankan festival ini bukan agenda seremonial tahunan semata.

“Semangat nyawiji atau bersatu harus terus kita rawat. Ketika pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku UMKM, dan masyarakat berjalan bersama, maka warisan budaya tidak hanya akan lestari, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan pendidikan bagi masyarakat,” pungkasnya.

Apa yang Membuat Keris Solo Berbeda dari Daerah Lain?

Keris telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2005. Solo sendiri dikenal sebagai salah satu pusat produksi dan koleksi keris dengan pakem tangguh Mataram yang kental. Festival ini mempertemukan para empu, kolektor, dan komunitas budaya dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengetahuan.

Astrid optimistis festival semacam ini bisa memperkuat posisi Surakarta sebagai Kota Budaya yang mampu mengembangkan warisan leluhur menjadi kekuatan di bidang pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Follow www.pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mettanews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks