Pencarian

Ribuan Warga Padati Kirab Topo Bisu di Weleri Kendal, Tradisi Baru Grebeg Suro Sarat Makna Introspeksi

Senin, 29 Juni 2026 • 17:59:31 WIB
Ribuan Warga Padati Kirab Topo Bisu di Weleri Kendal, Tradisi Baru Grebeg Suro Sarat Makna Introspeksi
Ribuan warga memadati Kirab Topo Bisu di Weleri sebagai puncak Grebeg Suro.

KENDAL — Kirab Topo Bisu menyedot perhatian ribuan pasang mata di Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Prosesi yang menjadi puncak Grebeg Suro ini digelar untuk pertama kalinya, dan langsung disambut antusiasme luar biasa dari masyarakat setempat.

Ribuan orang berjejer di sepanjang rute dari Taman Kota hingga Kantor Kecamatan Weleri. Mereka ingin menyaksikan iring-iringan peserta yang mengenakan pakaian adat serba hitam dan berjalan tanpa alas kaki.

Filosofi di Balik Pakaian Hitam dan Kaki Telanjang

Camat Weleri, Dwi Cahyono Suryo, menjelaskan bahwa setiap elemen dalam Kirab Topo Bisu memiliki filosofi mendalam. Warna hitam pada pakaian peserta dipilih sebagai simbol kenetralan dan kesederhanaan.

“Hitam melambangkan sifat yang netral. Kemudian berjalan tanpa alas kaki menjadi simbol hubungan langsung manusia dengan bumi yang telah melahirkan kita,” jelas Dwi.

Ia menambahkan, istilah “Topo Bisu” bukan sekadar berjalan dalam keadaan diam. Prosesi ini menjadi momentum bagi setiap peserta untuk melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidupnya.

Rangkaian Acara: Dari Rampak Barongan hingga Warok Extreme

Ketua Panitia Grebeg Suro, Ragil Kiki Fitrianto, mengungkapkan persiapan acara ini berlangsung selama tiga bulan. Menurutnya, Grebeg Suro tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi budaya yang memiliki nilai spiritual.

Rangkaian acara diawali dengan pertunjukan seni tradisional yang melibatkan puluhan paguyuban budaya. Masyarakat disuguhkan penampilan Rampak Barongan, Rampak Dawangan, dan Jaran Kepang (Jarkep) Kendal.

Memasuki malam hari, Kirab Topo Bisu dan Prosesi Grebeg Suro menjadi inti acara. Di barisan depan, tampak rombongan pembawa gunungan, panji-panji, hingga pusaka berupa keris dan tombak.

Setelah prosesi selesai, kemeriahan kembali berlanjut dengan penampilan Rampak Barongan, Rampak Dawangan, Jarkep Kendal, Komunitas Reog, hingga Warok Extreme Budoyo.

Harapan Jadi Agenda Tahunan Kebanggaan Kendal

Pihak panitia dan pemerintah kecamatan berharap Grebeg Suro tidak berhenti sebagai acara sekali jalan. Mereka menargetkan tradisi ini bisa menjadi agenda tahunan yang dinanti warga.

“Ke depan Grebeg Suro bisa menjadi agenda tahunan, tidak hanya milik Kecamatan Weleri tetapi juga menjadi kebanggaan Kabupaten Kendal sebagai daerah yang memiliki kekayaan seni dan budaya,” pungkas Dwi.

Kehadiran Kirab Topo Bisu di Weleri menjadi bukti bahwa tradisi Jawa masih hidup dan dirawat oleh generasi muda. Perpaduan antara hiburan, seni, dan spiritualitas membuat Grebeg Suro layak dinantikan setiap tahunnya.

Follow www.pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lingkartv.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks