JEPARA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah resmi menetapkan Cabang dan Ranting Muhammadiyah (CRM) Unggulan serta Masjid Unggulan untuk tahun 2026 melalui ajang awarding yang digelar di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Blimbingrejo, Nalumsari, Jepara, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sepuluh cabang terbaik hasil seleksi tingkat wilayah dan enam masjid unggulan yang mewakili daerah masing-masing.
Pemilihan tuan rumah kali ini bukan tanpa alasan. Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Blimbingrejo merupakan peraih penghargaan Ranting Muhammadiyah Unggulan Nasional Tahun 2024 di Palembang, sehingga dinilai mampu menjadi contoh dalam pengembangan dakwah dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Penilaian Cabang dan Ranting Muhammadiyah (CRM) Unggulan dilaksanakan di Gedung Dakwah Umar Hasyim, sementara penilaian Masjid Unggulan berlangsung di Masjid Al-Muttaqin Blimbingrejo. Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM Jawa Tengah, Prof. Suwarno, memimpin langsung jalannya penilaian dengan memberikan sejumlah pertanyaan indikator kepada peserta.
Setiap cabang diberikan waktu tiga menit untuk presentasi program unggulan, dilanjutkan sesi tanya jawab dengan dewan juri. Ada tujuh indikator utama yang menjadi fokus penilaian, yakni penguatan organisasi, kaderisasi generasi muda, pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kemandirian ekonomi, inovasi dakwah dan digitalisasi, pemberdayaan masyarakat, serta kontribusi dalam pengembangan cabang dan ranting baru.
Dari sepuluh peserta, masing-masing cabang menampilkan keunggulan yang berbeda. PCM Ajibarang (Banyumas) unggul dalam hal kaderisasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sementara itu, PCM Kroya (Cilacap) menonjol melalui pelayanan kesehatan berbasis Al-Ma'un yang menyentuh langsung warga kurang mampu.
PCM Muntilan (Magelang) mengintegrasikan program pendidikan, dakwah, lingkungan, dan ekonomi umat. Di sisi lain, PCM Ngadirejo (Temanggung) dikenal lewat berbagai program sosial yang langsung menyentuh masyarakat. Adapun PCM Wonosobo, Kebakkramat (Karanganyar), Ngawen (Klaten), dan Cepu (Blora) menunjukkan kemajuan signifikan dalam digitalisasi organisasi dan dakwah berbasis teknologi.
Enam masjid yang mengikuti penilaian tidak hanya dinilai dari fisik bangunan, melainkan keberhasilan dalam memakmurkan jamaah, kaderisasi, pendidikan, dakwah, hingga pengembangan ekonomi umat. Dewan juri menegaskan bahwa masjid merupakan jantung gerakan Muhammadiyah, tempat lahirnya kader dan pemimpin di masa lalu.
"Keberhasilan Muhammadiyah pada masa lalu lahir dari masjid, sehingga kemajuan Persyarikatan di masa depan juga harus dimulai dari upaya memakmurkan masjid," tegas tim juri dalam sesi evaluasi. Salah satu perhatian utama juri adalah pentingnya regenerasi penggerak masjid, di mana generasi muda Muhammadiyah didorong aktif terlibat dalam pengelolaan masjid.
Kemeriahan acara semakin lengkap dengan penampilan seni dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Cabang Nalumsari. Mulai dari drumband TK Aisyiyah 09, tari tradisional, pidato cilik, hingga penampilan rebana dari Pondok Pesantren Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo turut memeriahkan jalannya awarding sejak pagi hingga sore hari.