JAWA TENGAH — Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyebut capaian ini merupakan bukti akselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 yang digulirkan perusahaan. "Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini," ujarnya dalam keterangan resmi, pekan ini.
EBITDA perseroan ikut terkerek naik 3,8 persen secara tahunan menjadi Rp37,5 triliun dengan margin 49,4 persen. Arus kas operasional juga solid, tercatat Rp34,9 triliun atau meningkat 7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Di segmen konsumer, anak usaha Telkom, Telkomsel, menyumbang pendapatan Rp55,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang lini bisnis digital yang naik 11 persen, seiring membaiknya industri mobile di dalam negeri.
Rata-rata pendapatan per pengguna atau ARPU mobile meningkat 9 persen menjadi Rp45.600. Strategi komersial yang disiplin dan optimalisasi portofolio produk disebut menjadi pendorong utama perbaikan tersebut.
Sementara untuk layanan fixed broadband, jumlah pelanggan mencapai 9,5 juta dengan rasio konvergensi naik ke level 65 persen. Telkomsel juga mulai memanfaatkan teknologi AI dan 5G untuk memperkuat layanan.
Segmen B2B Infrastructure justru mencatat pertumbuhan paling agresif. Pendapatan segmen ini mencapai Rp33,1 triliun, melesat 19 persen secara tahunan, ditopang bisnis data, internet, dan layanan IT.
Anak usaha menara, Mitratel, membukukan pendapatan Rp4,7 triliun dengan jumlah tenant mencapai 63.866 unit atau tumbuh 4,9 persen. Di sektor data center, Telkom mengkonsolidasikan aset NeutraDC untuk memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur digital regional.
Langkah ini diharapkan mampu memperluas layanan sekaligus meningkatkan monetisasi aset digital perseroan di tengah permintaan komputasi awan yang terus meningkat.
Sepanjang semester pertama 2026, Telkom menyelesaikan streamlining terhadap 10 entitas melalui divestasi, merger, dan likuidasi. Langkah ini diambil untuk memperkuat fokus pada bisnis inti dan meningkatkan efisiensi operasional.
Belanja modal yang direalisasikan mencapai Rp10,8 triliun, dengan lebih dari 96 persen dialokasikan untuk pengembangan bisnis prioritas di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business.
Dian menegaskan pembangunan infrastruktur digital menjadi faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. "Telkom akan terus mengakselerasi transformasi dan memperkuat investasi pada kapabilitas digital guna menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," tutupnya.