Rumah Mualaf MUI Wonosobo Gelar Sima’an Alquran 30 Juz, 15 Mahasiswi Tahfidz Unsiq Jadi Pengisi

Penulis: Eko Saputro  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 23:19:01 WIB
mahasiswi tahfidz Unsiq Jateng membaca 30 juz Alquran dalam acara Hamalatul Quran di Masjid Al-Huda, Desa Kapencar.

WONOSOBO — Milad ke-51 MUI menjadi momentum bagi Rumah Mualaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo untuk menghadirkan kegiatan keagamaan bagi para mualaf. Hamalatul Quran, yang merupakan sima’an atau pembacaan Alquran 30 juz, menjadi agenda utama dalam acara tersebut.

Setiap mahasiswi yang berasal dari berbagai fakultas di Unsiq Jateng bertugas membaca dua juz hingga tuntas 30 juz. Prosesi ini dibimbing langsung oleh dosen tahfidz, Dr Soffan Rizqi, Al-Hafidz, MPd dan Ustadz Abdur Rofiq Al-Hafidz, MPd.

Kolaborasi Rumah Mualaf dan LTPQ-KINA Unsiq

Ketua Rumah Mualaf MUI Kabupaten Wonosobo, Dr H Samsul Munir Amin, MA, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Rumah Mualaf MUI Wonosobo dan Lembaga Tahfidz dan Pengembangan Qiraah-Klinik Ilmu Alquran (LTPQ-KINA) Unsiq Jateng di Wonosobo.

“Kegiatan Hamalatul Quran dimaksudkan agar supaya para mualaf di Kabupaten Wonosobo mengenal dan mencintai Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam,” katanya.

Selain sima’an Alquran, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi para mualaf. Sebanyak 50 mualaf dari berbagai daerah, khususnya dari Desa Kapencar, hadir dalam kegiatan tersebut. Tujuannya, agar para mualaf saling mengenal dan mempererat hubungan kekeluargaan dalam agama Islam.

Pengajian Akbar: Pentingnya Istikomah dan Kerukunan

Puncak acara Hamalatul Quran dan Silaturahmi Mualaf Wonosobo diisi dengan pengajian akbar yang disampaikan oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Wonosobo, Dr KH Muchotob Hamzah, MM. Dalam ceramahnya, Abah Muchotob, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya istikomah bagi para mualaf dalam menjalankan ajaran Islam.

Abah Muchotob juga menyampaikan pesan tentang perlunya interaksi yang harmonis antar umat beragama. “Walau berbeda agama, kerukunan umat beragama di wilayah Wonosobo agar tetap terjalin dan berjalan harmonis,” jelasnya. Ia juga mengingatkan tentang pentingnya menjalin tiga jenis ukhuwah: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah basyariyah.

Pemilihan Lokasi untuk Semarakkan Nilai Alquran

Kepala LTPQ-KINA, K Fatkhurrohman, M.Pd, menjelaskan bahwa pemilihan Masjid Al-Huda di Desa Kapencar sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. “Pemilihan lokasi tersebut dipilih agar supaya semarak nilai-nilai Al-Quran lebih luas dirasakan di tengah-tengah masyarakat Wonosobo,” ujarnya.

Acara ini turut dihadiri oleh para mahasiswa tahfidz, dosen Unsiq, Camat Kertek, Kepala KUA Kertek, pengurus MUI, ICMI, IPHI, MWC NU, PC Muhammadiyah, PC Rifaiyah, serta masyarakat Desa Kapencar dan tamu undangan lainnya.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: suarabaru.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top