SEMARANG — Ribuan mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) siap bergerak ke desa-desa di Jawa Tengah. Sebanyak 1.130 peserta KKN 2026 resmi diterjunkan untuk menjalani pengabdian selama lebih dari satu bulan.
Mereka akan ditempatkan di empat kabupaten, yakni Semarang, Kendal, Demak, dan Grobogan. Enam kecamatan menjadi lokasi pendampingan: Bergas, Ambarawa, Plantungan, Mranggen, Karangawen, dan Gubug.
Program KKN tahun ini mengusung tema “KKN UPGRIS Berdampak”. Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa.
“Di sinilah ilmu pengetahuan bertemu dengan realitas kehidupan masyarakat. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari kecanggihan teori, tetapi dari sejauh mana ilmu mampu menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya dalam penerjunan di Gedung Balairung UPGRIS.
Ia menekankan, mahasiswa hadir sebagai pendamping, bukan mengambil alih peran warga. Tugas mereka adalah mengembangkan potensi lokal lewat inovasi, edukasi, dan pemberdayaan.
Kepala Pusat Pemberdayaan Masyarakat dan KKN UPGRIS, Arisul Ulumuddin, mengatakan tema “Berdampak” dipilih agar kegiatan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ada delapan bidang program yang dijalankan. Mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, promosi kesehatan, pengelolaan lingkungan, hingga penguatan UMKM dan kewirausahaan.
Program lain mencakup literasi digital, pencegahan penyalahgunaan narkoba, percepatan penanganan stunting, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.
Seluruh mahasiswa didampingi 34 dosen pembimbing lapangan. Mereka akan memastikan program berjalan sesuai target dan berdampak langsung ke warga.
Hasil KKN tidak berhenti di laporan internal. UPGRIS mewajibkan publikasi hasil pengabdian melalui media massa, artikel ilmiah, video kegiatan, serta ekspo hasil pengabdian sebagai bentuk diseminasi praktik baik pemberdayaan masyarakat.
Rektor Sapto Budoyo juga mengingatkan peserta untuk menjaga etika dan profesionalisme selama di lokasi. Menurutnya, setiap mahasiswa adalah representasi kampus di tengah masyarakat.