Plaza Pragolo tak seperti yang digadang-gadang. Dibangun dengan biaya miliaran rupiah, pusat oleh-oleh andalan Pati itu justru menjadi saksi bisu lesunya perekonomian. Para pedagang dan pengunjung seolah enggan singgah, meninggalkan bangunan megah yang kini lebih mirip monumen daripada pusat transaksi.
Kondisi ini memantik reaksi Ketua Komisi C DPRD Pati, Joni Kurnianto. Ia menilai kemandekan Plaza Pragolo adalah ironi di tengah kebutuhan daerah akan pemasukan baru.
Joni Kurnianto menekankan bahwa pembenahan Plaza Pragolo bukan sekadar proyek mempercantik wajah kota. Lebih dari itu, ia mendorong Plt Bupati Risma Ardhi Chandra untuk segera bertindak.
“Pada prinsipnya, pemerintah harus berusaha supaya gedung ini bisa berfungsi kembali, menghidupkan perekonomian daerah, serta memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Pati,” tegas Joni dalam pernyataannya.
Menurutnya, di saat kas daerah harus efisien, aset seperti Plaza Pragolo adalah potensi PAD yang sayang jika dibiarkan begitu saja. “Insyaallah segera kita cari jalan keluar solusinya agar Plaza Pragola ramai lagi. Kemarin Pak Plt juga ngomong mau menghidupkan kembali Plaza Pragolo,” ungkapnya, menambahkan bahwa Plt Bupati telah menyatakan komitmen serupa.
Desakan DPRD ini menjadi ujian bagi kepemimpinan Plt Bupati Risma Ardhi Chandra. Publik Pati menanti wujud nyata dari komitmen “menghidupkan kembali” plaza tersebut. Pertanyaan besarnya, seperti apa formula yang tepat untuk mengembalikan denyut nadi ekonomi di bangunan yang telah menelan investasi besar itu? Apakah dengan revitalisasi fisik, relokasi tenant, atau insentif khusus bagi pelaku UMKM?
Belum ada pernyataan resmi dari Pemkab Pati mengenai langkah konkret yang akan diambil. Namun, tekanan dari legislatif dan besarnya potensi yang tersimpan di Plaza Pragolo membuat keputusan pembenahan tak bisa lagi ditunda-tunda.