Pemkot Salatiga Gencarkan Pilah Sampah dari Rumah, Volume Capai 140 Ton per Hari, Warga Didorong Punya Komposter

Penulis: Eko Saputro  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 17:10:01 WIB
Wali Kota Salatiga mengajak warga memilah dan mengolah sampah organik dengan komposter di rumah masing-masing.

SALATIGA — Angka 140 ton sampah per hari bukan sekadar statistik bagi Pemerintah Kota Salatiga. Di baliknya, ada konsekuensi logistik, anggaran, dan daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang terus menipis. Pemkot pun memilih jalan yang lebih fundamental: mengubah kebiasaan warga di dapur dan halaman rumah masing-masing.

Target Satu Rumah Satu Komposter dan Biopori

Kampanye bertajuk "Stop Sampah dari Sumbernya" menjadi tulang punggung strategi pengelolaan sampah kota. Warga tidak hanya diminta memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolahnya secara mandiri. Dua gerakan utama yang digaungkan adalah satu rumah satu komposter dan satu rumah satu biopori.

Komposter berfungsi mengubah sisa sayuran, kulit buah, dan dedaunan menjadi pupuk organik. Sementara biopori membantu resapan air sekaligus mengurai sampah organik di dalam tanah. Keduanya menjadi solusi sederhana yang langsung berdampak pada pengurangan volume sampah yang diangkut ke TPA.

Mengapa Pemkot Tidak Pilih Teknologi RDF Dulu?

Wali Kota Robby Hernawan menyebut teknologi pengolahan sampah berskala besar seperti Refuse Derived Fuel (RDF) belum menjadi pilihan utama. "Yang paling penting adalah bagaimana sampah bisa dikurangi sejak dari sumbernya. Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan dan pengolahan mandiri," ujar Robby dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).

Pernyataan itu menegaskan arah kebijakan yang berbeda dari kota-kota lain yang cenderung membangun infrastruktur pengolahan sampah megah. Salatiga memilih pendekatan partisipatif: mengubah perilaku warga sebagai garda terdepan.

Safari Kelurahan Jadi Kunci Sosialisasi

Agar gerakan ini berjalan efektif hingga tingkat RT/RW, Robby melakukan safari kelurahan. Langkah ini menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi dan menyamakan persepsi antara pemerintah kota dengan jajaran kewilayahan. "Dengan begitu, berbagai program prioritas pemerintah dapat berjalan efektif hingga tingkat masyarakat," katanya.

Safari kelurahan bukan sekadar seremoni. Di setiap pertemuan, warga mendapat pendampingan teknis cara membuat komposter sederhana dan menggali biopori yang benar. Perangkat kelurahan dan kader lingkungan menjadi ujung tombak pendampingan di lapangan.

Dampak Langsung ke Warga: Pupuk Gratis dan Lingkungan Lebih Sehat

Jika program berjalan masif, dampak paling terasa adalah berkurangnya volume sampah yang harus diangkut truk pengumpul setiap hari. Selain itu, warga bisa memanfaatkan kompos dari komposter untuk menyuburkan tanaman di pekarangan rumah. Biopori juga membantu mencegah genangan air saat musim hujan.

Pemkot Salatiga menargetkan gerakan ini bisa menekan volume sampah yang masuk ke TPA hingga 30 persen dalam dua tahun ke depan. Angka 140 ton per hari bukan target yang mustahil ditekan, asal setiap rumah tangga ikut ambil bagian.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: beritajateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top