SEMARANG — Ratusan warga Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, menggelar prosesi Labuh Agung Sedekah Rawapening pada Senin (6/7/2026) malam. Tradisi tahunan yang berpusat di dermaga perahu nelayan Dusun Gondang ini menjadi ungkapan syukur masyarakat atas limpahan rezeki dari Danau Rawapening.
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya dari pusat Dusun Gondang menuju panggung utama di kawasan dermaga Rowoboni. Warga mengarak dua usungan berisi berbagai ubo rampe sesaji, diiringi kesenian tradisional dan barisan pembawa oncor atau obor.
Setelah kirab, kenduri digelar berupa tahlil dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama. Warga memohon keselamatan, kelancaran mencari nafkah, serta keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Puncak acara ditandai dengan prosesi larung sesaji ke tengah Danau Rawapening. Dua usungan berisi persembahan dibawa menggunakan perahu sebelum dilarung sebagai simbol rasa syukur masyarakat.
Kepala Desa Rowoboni, Agus Salim, mengatakan Labuh Agung merupakan puncak rangkaian Sedekah Rawapening yang setiap tahun berlangsung pada tanggal 21 Muharram atau Bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi ungkapan syukur masyarakat karena Danau Rawapening telah memberikan sumber penghidupan bagi warga selama bertahun-tahun.
“Warga percaya melalui Labuh Agung ini akan diberi kelancaran, keselamatan, dan keberkahan dari Sang Pencipta saat mencari nafkah di Danau Rawapening,” ujarnya.
Agus menambahkan, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarmasyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian Danau Rawapening. “Harapannya, danau yang selama ini menghidupi ribuan masyarakat di sekitarnya tetap lestari dan manfaatnya bisa terasakan hingga generasi mendatang,” kata Agus.
Salah seorang peserta, Oktaria Fransica, mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat dalam mengikuti seluruh rangkaian Labuh Agung. Warga asal Palembang, Sumatera Selatan, itu baru pertama kali mengikuti tradisi tersebut sejak menetap di Desa Rowoboni. “Senang sekali bisa melihat langsung bagaimana masyarakat masih menjaga tradisi ini secara turun-temurun. Antusiasmenya luar biasa,” ujarnya.