JEPARA — Kerusakan karet bendungan yang selama ini menjadi pagar pemisah antara air sungai dan air laut kini menjadi mimpi buruk bagi ribuan petani di Jepara. Tanpa fungsi bendungan yang optimal, air asin dari laut leluasa masuk ke aliran Sungai SWD II yang menjadi sumber irigasi utama. Akibatnya, sekitar 1.130 hektare sawah yang tersebar di 13 desa di empat kecamatan terancam puso.
Penanganan darurat langsung dilakukan dengan menumpuk karung berisi pasir dan tanah di tubuh Bendungan Bongpes. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhodir, mengatakan upaya ini sudah berjalan sekitar satu pekan terakhir. “Ini penanganan sementara untuk menyelamatkan 1.130 hektare sawah yang sudah ada tanaman padi, targetnya kita pokoknya bisa terselamatkan, bisa panen,” ujarnya.
Supadi (70), petani asal Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, mengaku sawahnya seluas tiga perempat hektare mulai kemasukan air asin sejak satu bulan terakhir. Ia menjadi salah satu dari puluhan petani yang kini cemas setiap kali air pasang datang. “Petani ini banyak yang susah, karena bendungan Bongpes tidak bisa berfungsi. Kalau tidak dibendung, air asin ini masuk ke sawah warga,” kata Supadi saat ditemui di lokasi bendungan, Sabtu (4/7/2026).
Jika kondisi ini dibiarkan hingga masa panen, hasil panen petani diperkirakan hanya bisa terselamatkan sekitar 30 persen. Artinya, kerugian besar sudah di depan mata. “Kami hanya bisa pasrah, tapi tetap berharap tanggul darurat ini bisa bertahan sampai panen,” tambahnya.
Pemkab Jepara tidak tinggal diam. Selain mengerahkan alat berat dan material untuk tanggul darurat, mereka juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mendorong perbaikan permanen Bendungan Bongpes. Namun, kabar yang diterima tidak menggembirakan. “Informasinya perbaikan nanti bisa dilakukan pada 2027 atau 2028,” pungkas Mudhodir.
Artinya, selama dua tahun ke depan, petani di empat kecamatan—Pecangaan, Kalinyamatan, Welahan, dan Mayong—harus bergantung pada solusi sementara yang rawan jebol. Tanggul karung pasir memang bisa menahan air, tapi tidak sekuat struktur beton atau karet bendungan yang asli. Setiap kali hujan deras atau air laut pasang maksimal, ancaman roboh selalu mengintai.
Bendungan Bongpes selama ini menggunakan karet sebagai komponen utama untuk menahan air asin. Material ini memang fleksibel dan murah, tapi juga rentan terhadap cuaca ekstrem dan usia pakai. Belum ada pernyataan resmi dari BBWS Pemali Juana mengenai penyebab pasti kerusakan, namun petani menduga faktor usia dan kurangnya perawatan menjadi pemicu utama. “Sudah lama tidak diperbaiki, akhirnya bocor dan robek,” ujar Supadi.
Dengan luas sawah yang terancam mencapai ribuan hektare, Jepara kini berada dalam situasi genting. Jika air asin terus merembes, bukan hanya satu musim tanam yang gagal, tapi juga kesuburan tanah jangka panjang yang terancam. Pasalnya, salinitas tinggi bisa merusak struktur tanah dan membuat lahan tidak produktif selama bertahun-tahun.