Pencarian

Harga BBM Pertamina 6 Oktober 2026: Pertamax Turbo Rp19.600 per Liter

Selasa, 06 Oktober 2026 • 08:05:31 WIB
Harga BBM Pertamina 6 Oktober 2026: Pertamax Turbo Rp19.600 per Liter
Pengendara mengisi bahan bakar nonsubsidi di SPBU Pertamina.

JAWA TENGAH — Pertamina belum menyesuaikan harga BBM nonsubsidi untuk Oktober 2026, sehingga sejumlah produk seperti Pertamax Turbo masih dibanderol Rp19.600 per liter di wilayah dengan PBBKB 5 persen, termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya. Penyesuaian harga disebut mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi masyarakat. Harga Pertamax juga bertahan di Rp15.950 per liter, sementara BBM subsidi Pertalite dan Bio Solar tidak berubah.

Harga yang berlaku saat ini mengacu pada penetapan sejak 2 September 2026. Sejumlah produk nonsubsidi tercatat naik dibanding periode sebelumnya, sementara Pertamina memilih menahan penyesuaian baru untuk Oktober 2026. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat.

Rincian Harga Nonsubsidi per Liter

Untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen, Pertamax Turbo dijual Rp19.600 per liter. Angka itu naik dari sebelumnya Rp18.300 per liter.

Pertamax Green 95 dipatok Rp19.150 per liter, naik dari sebelumnya Rp16.600 per liter. Kenaikan juga terjadi pada Dexlite yang kini Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700 per liter.

Pertamina Dex mencatat kenaikan paling tinggi, dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Sementara Pertamax tetap dibanderol Rp15.950 per liter tanpa perubahan.

Harga BBM Subsidi Tidak Berubah

Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter. Bio Solar bertahan di Rp6.800 per liter. Kedua jenis BBM bersubsidi itu tidak mengalami penyesuaian pada periode ini.

Stabilitas harga subsidi menjadi penopang daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Pemerintah dan Pertamina menjaga agar beban konsumen tidak bertambah untuk kebutuhan bahan bakar harian.

Faktor di Balik Penahanan Harga

Pertamina menyebut keputusan penyesuaian harga tidak semata mengikuti pergerakan pasar. Kondisi masyarakat menjadi pertimbangan utama sebelum perubahan diterapkan.

Di sisi lain, pasokan minyak mentah disebut terganggu. Kementerian ESDM pun tidak lagi mengandalkan lelang impor BBM untuk menutup kebutuhan dalam negeri. Situasi ini menjadi konteks mengapa harga nonsubsidi bergerak lebih dulu ketimbang subsidi.

Bagi konsumen, daftar harga ini menjadi acuan sebelum mengisi bahan bakar, terutama pengguna kendaraan bermesin bensin beroktan tinggi dan diesel. Pertamina belum memberi sinyal kapan penyesuaian berikutnya akan dilakukan.

Follow www.pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks