JAWA TENGAH — Kondisi suku bunga tinggi menawarkan imbal hasil investasi lebih menarik, tetapi sekaligus mengancam arus kas harian lewat kenaikan beban cicilan utang. Praktisi keuangan mengingatkan masyarakat memastikan fondasi kas pribadi aman sebelum mengejar keuntungan, karena keputusan investasi yang terburu-buru justru bisa memperbesar risiko.
Executive Vice President International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia, Bareyn Mochaddin, menilai kenaikan suku bunga bekerja dua arah. Imbal hasil produk investasi naik, tetapi biaya pinjaman ikut membengkak. Karena itu, ia menekankan pentingnya mengecek kondisi keuangan sebelum mengambil keputusan.
Menurut Bareyn, langkah pertama bukan langsung mengejar instrumen berimbal hasil tinggi. Fondasi kas pribadi harus dibenahi lebih dulu.
"Dampak suku bunga naik itu dua sisi, betul ada potensi investasi, tetapi cicilan juga akan naik," kata Bareyn kepada Katadata.co.id.
Ia menyebut kondisi keuangan baru bisa dinyatakan aman jika arus kas bulanan surplus, tidak ada beban utang konsumtif, serta dana darurat dan proteksi asuransi sudah dialokasikan memadai.
"Sehingga, langkah pertama bukan langsung berinvestasi, tetapi memastikan cash flow bulanan surplus dan dana darurat aman. Istilahnya, 'aman dulu baru berkembang'," ujarnya.
Setelah fondasi keuangan rapi, Bareyn menyarankan investor memanfaatkan momentum suku bunga tinggi. Dua instrumen yang bisa dilirik adalah obligasi dan saham yang tertekan akibat kenaikan suku bunga.
"Setelah itu, baru kita cari cara untuk memanfaatkan kenaikan suku bunga tinggi dengan (misalnya) mencari imbal hasil tinggi di produk seperti obligasi dan/atau membeli saham yang tertekan (turun) karena suku bunga naik," katanya.
Ia menilai Surat Berharga Negara (SBN) yang baru diluncurkan cukup menarik dari sisi imbal hasil. Kupon instrumen tersebut disebut yang tertinggi sejak 2020.
"(Ini bukan rekomendasi investasi) SBN yang baru diluncurkan cukup menarik dengan kupon tertinggi sejak 2020," kata Bareyn.
Bareyn menuturkan, investor berhati-hati bisa memperbesar porsi SBN, sementara profil agresif dapat mempertimbangkan porsi saham lebih besar. Emas, menurut dia, sebaiknya tetap dimiliki sebagai penyeimbang.
"Di saat era suku bunga tinggi, bagi investor yang lebih berhati-hati, mungkin bisa memperbesar porsi SBN, sedangkan yang cukup agresif bisa memperbesar porsi saham. Yang penting dijaga adalah keseimbangan, emas sebaiknya tetap dimiliki," katanya.
Ia juga mengingatkan pemilihan instrumen harus disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing. Imbal hasil menarik belum tentu cocok untuk semua orang.
"Kadang yang menarik bukan yang terbaik, karena yang terbaik adalah yang paling tepat membantu kita untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan," ujar Bareyn.
Sejumlah sektor saham berpotensi tertekan saat suku bunga tinggi, salah satunya properti. Meski begitu, investor tidak bisa memastikan kapan harga saham menyentuh titik terendah.
Karena itu, keputusan jual atau beli perlu didasarkan pada analisis aset yang dimiliki. Investor yang melihat peluang bisa melakukan pembelian secara bertahap untuk mengurangi risiko salah waktu masuk.
Bagi investor pemula dengan kemampuan investasi Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan, Bareyn menilai hal terpenting adalah membangun kebiasaan investasi.
"Bisa mulai dari logam mulia atau reksa dana pasar uang yang bisa dibeli mulai Rp 100 ribuan," katanya.
Catatannya tetap sama: investasi dilakukan setelah kondisi keuangan pribadi aman, bukan sebelum.
Bareyn membeberkan sejumlah kekeliruan yang kerap dilakukan masyarakat di era suku bunga tinggi:
"Menggunakan utang untuk berinvestasi karena melihat peluang cuan, padahal itu tidak disarankan dan bunga pinjaman sedang mahal. Dan terakhir, menaruh semua dana di satu jenis investasi saja," kata Bareyn.
Instrumen invest?
si apa yang bisa dimanfaatkan saat suku bunga tinggi? A: Obligasi seperti SBN dan saham yang tertekan akibat kenaikan suku bunga, dengan porsi disesuaikan profil risiko masing-masing.