INSA Desak Pengerukan Alur Pelabuhan Belawan, Kapal Besar Tak Bisa Masuk

Penulis: Budi Santoso  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 10:37:01 WIB
Ketua DPC INSA Medan, Hendra W. Kusuma, mendesak pengerukan alur dan kolam Pelabuhan Belawan.

JAWA TENGAH — Indonesia National Shipowners Association (INSA) Medan mendesak pemerintah dan PT Pelindo segera mengeruk alur pelayaran serta kolam Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, karena pendangkalan makin parah. Kedalaman alur yang hanya 7,5 meter membuat kapal berukuran besar tidak bisa bersandar, sementara arus ekspor terus meningkat. Bila dibiarkan, kargo dipastikan terus beralih ke Kuala Tanjung meski biaya labuh di sana lebih mahal.

Paragraf pembuka: Desakan itu disampaikan Ketua DPC INSA Medan (Belawan), Hendra W. Kusuma, yang menilai pendangkalan sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Menurut dia, kebutuhan pengerukan tidak bisa ditunda lagi karena Pelabuhan Belawan adalah pintu utama ekspor-impor Sumatera bagian utara. Kondisi kolam di Terminal A dan alur pelayaran yang dangkal menjadi penyebab utama kapal besar enggan masuk.

Kedalaman 7,5 Meter Bikin Kapal Besar Menepi

Hendra menyebut kedalaman alur pelayaran Pelabuhan Belawan saat ini hanya 7,5 meter. Angka itu jauh dari cukup untuk menampung kapal kontainer berukuran besar yang biasa melayani rute internasional. Akibatnya, sejumlah kargo memilih dialihkan ke Pelabuhan Kuala Tanjung.

“Karena memang ini kebutuhan yang sangat urgent sekali untuk pelabuhan Belawan menghadapi arus export yang terus meningkat. Sekarang kargo pada lari ke Kuala Tanjung dengan biaya labuh mahal karena kondisi kolam di Terminal A dan alur pelayaran pelabuhan Belawan yang hanya 7.5 meter saat ini, sehingga kapal ukuran besar tak bisa masuk,” ujar Hendra saat dihubungi Ocean Week, Selasa malam, di Sumut.

Ironisnya, biaya labuh di Kuala Tanjung justru lebih mahal. Pelayaran tetap memilih pindah karena kapal besar tidak punya pilihan lain. Situasi ini membuat Belawan kehilangan potensi pendapatan dari aktivitas bongkar muat yang seharusnya bisa ditangani sendiri.

Peremajaan Alat Bongkar Muat Ikut Dituntut

Selain pengerukan, INSA Medan meminta Pelindo memperbarui peralatan bongkar muat di terminal peti kemas. Hendra menyoroti kinerja RTG di BNCT yang dinilai belum optimal. Targetnya, produktivitas bongkar muat bisa menembus 40 box per jam.

Data yang dihimpun menyebutkan PMT Terminal Belawan kini mengoperasikan 8 unit QCC dan 16 unit RTG. Jumlah itu dinilai belum cukup untuk mengejar standar kinerja yang diinginkan pelayaran. Peremajaan alat menjadi kunci agar waktu sandar kapal lebih singkat dan biaya logistik turun.

Pelindo: Pengerukan Masih Tahap Konsultasi Publik

Dari sisi Pelindo, pengerukan alur pelayaran dan kolam Pelabuhan Belawan disebut masih dalam tahap konsultasi publik. Proses itu dilakukan untuk mencari solusi atas sedimentasi tinggi yang terus mengendap di dasar alur. Pelindo menyatakan langkah ini bagian dari upaya meningkatkan kinerja bongkar muat di pelabuhan tersebut.

Belum ada keterangan resmi soal jadwal pasti eksekusi pengerukan. INSA Medan berharap konsultasi publik tidak berlarut-larut karena dampaknya sudah dirasakan pelayaran setiap hari. Semakin lama alur dibiarkan dangkal, semakin banyak kargo yang berpindah ke pelabuhan lain.

Dampak ke Eksportir dan Pelayaran Sumut

Bagi eksportir Sumatera Utara, pendangkalan alur berarti biaya logistik membengkak. Kargo yang seharusnya keluar lewat Belawan harus dialihkan ke Kuala Tanjung dengan ongkos labuh lebih tinggi. Waktu pengiriman juga berpotensi molor karena proses bongkar muat tidak bisa dilakukan di terminal terdekat.

Pelayaran yang berkegiatan rutin di Belawan merasakan langsung keterbatasan ini. Kapal dengan draft besar terpaksa mengurangi muatan atau mencari pelabuhan alternatif. Kondisi itu memukul daya saing ekspor Sumut di pasar internasional, terutama untuk komoditas yang sensitif terhadap biaya angkut.

Penutup: Pengerukan alur dan kolam Pelabuhan Belawan menjadi ujian bagi Pelindo dan pemerintah dalam menjaga kelancaran logistik Sumatera bagian utara. Tanpa eksekusi cepat, perpindahan kargo ke Kuala Tanjung akan makin sulit dibalik meski biaya di sana lebih mahal.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: oceanweek.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top