JAWA TENGAH — Sebanyak 18 chef menjelajahi 12 kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam Culinary Trip lima hari yang digelar Juni hingga Juli 2026. Perjalanan ini merupakan bagian dari program Future Menu 2026 Unilever Food Solutions (UFS) Indonesia, menyusuri kuliner lokal dari Rembang hingga Blora. Para chef tidak sekadar mencicipi, tetapi juga menemui langsung pembuat sate srepeh, tempe ragi liar, dan nasi tahu telur gimbal.
Rombongan chef dari berbagai restoran dan bisnis kuliner mengikuti rangkaian perjalanan yang menyatukan aktivitas mencicipi, mengamati proses produksi, dan berdialog dengan pedagang. Food Storyteller and Host of UFS Culinary Trip, Ade Putri, menyebut pengalaman langsung sebagai kunci memahami sebuah hidangan secara utuh.
Setiap daerah yang disinggahi memberi pelajaran berbeda. Para chef tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga mengenali bahan, bumbu, dan teknik memasak yang dipakai masyarakat setempat.
Mereka menemui pembuat tempe yang masih memakai ragi liar dan daun jati sebagai pembungkus. Cara ini membuat tampilan tempe mengikuti tekstur daun dan menghasilkan pengalaman rasa serta tingkat kesegaran yang berbeda saat disantap.
Tempe tersebut juga membuka wawasan soal potensi bahan lokal sebagai sumber protein, relevan dengan konsumen yang mencari alternatif selain daging dan ayam.
Salah satu temuan paling menyita perhatian adalah Sate Srepeh di Rembang. Kuliner ini kini hanya dibuat oleh sekitar empat pedagang, membuat keberadaannya jadi bagian penting dalam perjalanan para chef.
"Kita nggak bisa menilai sebuah makanan dan membayangkan cuma dari baca terus ngelihat visual yang menarik. Harus dirasakan, kita nggak bisa baca resep terus langsung tahu rasanya persis kayak apa," kata Ade saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Rombongan juga mencicipi Sate Blora dan Nasi Ubi Mayu. Para chef memperhatikan penjual yang tetap membawa gerobak, membuka warung, serta menyiapkan makanan sejak pagi.
Chef Freddie Salim, Owner Silk Bistro, mendapat pengalaman berbeda saat mencicipi nasi tahu telur gimbal. Penjualnya tetap memasak satu per satu meski harus melayani sekitar 20 hingga 24 orang, mulai dari membumbui hingga menggoreng tahu dan gimbal.
"Mereka melakukannya itu karena they love it. It's not because hanya pekerjaan, but they truly love their job. Kedua, they're true to their identity, dan ketiga yang bikin aku bersemangat lagi adalah mereka sangat disiplin," ujarnya.
Konsistensi itu membuat Freddie membandingkan standar street food dengan restoran profesional. "Kalau di street food aja bisa ada this high standard, kenapa di restoran bintang lima dan bintang yang lain nggak bisa?" katanya.
Ade mengaku selama ini lebih sering memikirkan destinasi di luar pulau ketika merencanakan perjalanan. Perjalanan lima hari itu membalik cara pandangnya.
"Sebagai warga Jakarta aku selalu merasa setiap mau traveling itu sibuk mikirin tempat-tempat di luar pulau. Sampai lupa bahwa sebenarnya di pulau sendiri itu banyak hal yang kita belum lihat," kata Ade.
Freddie mendorong chef yang masih mencari sumber inspirasi untuk memulai dari pengalaman mencicipi makanan. "Aku sangat-sangat meng-encourage teman-teman yang di luar sana yang mau masak tapi belum tahu mau mulai dari mana, mulainya adalah cicipin dulu makanan," tuturnya.
Perjalanan ini mengubah cara para chef mencari ide. Mereka tidak hanya mengamati hasil akhir hidangan, tetapi juga memperhatikan bahan, teknik pengolahan, cara penyajian, serta kebiasaan orang yang mempertahankan makanan tersebut.
Bagi traveler yang tertarik menyusuri rute serupa, kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Rembang dan Blora bisa jadi titik awal. Informasi terkini soal jadwal program Future Menu 2026 dapat dikonfirmasi melalui Unilever Food Solutions Indonesia.