Harga Minyak Brent Turun 0,34% ke US$ 101,90 Usai G7 Sepakati Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Penulis: Budi Santoso  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 10:36:01 WIB
Harga minyak mentah Brent turun 0,34% menjadi US$ 101,90 per barel pada Senin (5/10).

JAWA TENGAH — Harga minyak mentah Brent turun 35 sen atau 0,34% menjadi US$ 101,90 per barel pada Senin (5/10), sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 62 sen atau 0,68% ke US$ 90,49 per barel. Penurunan terjadi setelah negara-negara G7 menyepakati pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat, bersamaan dengan meningkatnya ekspor minyak mentah Timur Tengah.

Kepala analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai keputusan G7 menggunakan cadangan strategis telah mengurangi sebagian kekhawatiran langsung terkait pasokan. Pasar juga mulai melihat volume ekspor Arab Saudi yang kembali menuju level sebelum perang, meski masih dikirim dengan biaya lebih tinggi dan melalui rute yang kurang efisien.

G7 Lepas 100 Juta Barel dari Cadangan Darurat

Negara-negara G7 menyepakati pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat pada Jumat (2/10). Kelompok ini juga berkomitmen untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi setelah mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump.

Langkah tersebut diperkirakan menambah pasokan global di tengah ekspor minyak mentah Timur Tengah yang meningkat. Data pelayaran menunjukkan ekspor minyak mentah kawasan tersebut berada di atas level sebelum perang selama empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September.

Ekspor Timur Tengah Naik, Serangan di Selat Hormuz Berlanjut

Meski pasokan bertambah, serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz masih terjadi. Kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran menyatakan telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Wilayah Khurais, Arab Saudi.

Aksi itu disebut sebagai respons terhadap 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Arab Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir. Belum ada konfirmasi dari pihak Saudi atas klaim tersebut. Pemerintah Yaman yang didukung Saudi menyatakan pihaknya meluncurkan kampanye militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara tersebut yang dikuasai Houthi.

Aramco Pangkas Harga untuk Asia, OPEC+ Tunda Tinjauan Kuota

Saudi Aramco secara tak terduga memangkas harga minyak mentah untuk Asia pada November ke level terendah dalam enam tahun. Langkah ini menambah tekanan pada harga minyak global di tengah ketidakpastian pasokan.

Kelompok negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) menunda tinjauan penetapan kuota produksi minyak para anggotanya untuk 2027. Penundaan terjadi setelah perang AS-Israel melawan Iran mengganggu proyek-proyek peningkatan kapasitas di seluruh Timur Tengah, membuat perkiraan potensi produksi di masa depan menjadi tidak pasti.

Gejolak di Eropa Tambah Ketidakpastian Pasokan

Di Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Kiev berencana meningkatkan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia. Ancaman ini berpotensi mengurangi pasokan minyak Rusia ke pasar global dan menambah volatilitas harga dalam beberapa pekan ke depan.

Kombinasi pelepasan cadangan G7, kenaikan ekspor Timur Tengah, dan ketidakpastian dari OPEC+ cukup untuk menekan harga minyak saat ini. Namun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di sekitar kawasan Teluk belum hilang.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top