Teater Kaplink Udinus Pentaskan Lakon Dhemit, Kritik Kerusakan Alam Akibat Pembangunan

Penulis: Deni Kurniawan  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 10:32:01 WIB
Teater Kaplink Udinus mementaskan lakon Dhemit yang mengangkat isu kerusakan alam akibat pembangunan.

SEMARANG — Lakon Dhemit merupakan karya Heru Kesawa Murti yang diadaptasi Agus Suharjoko. Ceritanya berpusat pada pembangunan perumahan yang mengubah kawasan hutan dan bukit, memicu konflik antara kepentingan proyek dan keberlangsungan lingkungan.

Penebangan pohon dan penggunaan alat berat menjadi pemicu utama ketegangan dalam cerita. Konflik tidak hanya melibatkan manusia, tetapi juga para dhemit yang kehilangan ruang hidup akibat pembangunan.

Konflik Manusia dan Penghuni Hutan

Cerita berpusat pada Rajeg Wesi sebagai pimpinan proyek dan Suli yang berperan sebagai konsultan. Suli berulang kali mengingatkan kondisi tanah yang labil dan menyarankan pembangunan terasering, tetapi usulan itu tidak mendapat perhatian.

Persoalan lingkungan semakin terlihat ketika Suli meminta agar pohon preh tidak ditebang dan pembangunan jembatan menjadi alternatif. Usulan tersebut ditolak karena pembangunan jembatan dinilai dapat mengurangi keuntungan proyek.

Konflik kemudian berkembang ketika para dhemit berusaha mempertahankan habitat mereka yang terus tergerus. Hutan yang menjadi tempat tinggal mereka berubah menjadi kawasan bangunan, sementara keberadaan alat berat membuat para dhemit semakin kehilangan ruang hidup.

Persoalan Kekuasaan di Antara Para Dhemit

Lakon Dhemit juga menyentuh persoalan kekuasaan dan kepentingan. Konflik bahkan muncul di antara para dhemit melalui perselisihan Genderuwo dan Jin Pohon Preh mengenai kepemimpinan.

Pementasan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian Teater Kaplink terhadap lingkungan. Isu tersebut dikemas melalui cerita dengan pendekatan komedi mistis.

"Kami berupaya peduli dengan lingkungan. Tujuannya agar alam tetap harus dijaga," kata Pimpinan Produksi Teater Kaplink, Audrey.

Ledakan dan Tanah Longsor Menutup Cerita

Pada bagian akhir, konflik memuncak ketika Rajeg Wesi tetap berusaha menumbangkan pohon preh menggunakan dinamit meski telah mendapat peringatan. Ledakan menghancurkan pohon tersebut, para dhemit menghilang, kemudian terjadi tanah longsor hingga panggung berakhir dalam suasana sunyi.

Pementasan dua hari ini menempatkan isu lingkungan sebagai inti cerita, bukan sekadar latar. Kerusakan alam yang ditampilkan dalam lakon menjadi cermin dari persoalan nyata yang terjadi di sekitar masyarakat.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: joglojateng.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top